TUJUAN

Tujuan penulis.
Secara pribadi penulis berkeinginan untuk menjadikan blog sebagai wadah untuk menorehkan segala hal yang penulis rasa pantas untuk dipublikasikan, segala bentuk kegiatan, pendapat, dan keinginan, serta segala hal yang terlintas dalam otak penulis. Dengan begitu penulis dapat menjadikan blog pribadi sebagai penelusur jejak hidup penulis dan hal apa saja yang terjadi dalam hidup penulis.
Segala hal yang terdapat dalam blog ini, baik tulisan maupun gambar ataupun dalam bentuk media lain adalah murni dari kreativitas si penulis, jika terdapat kesamaan dengan karya orang lain itu mungkin karena ketidaksengajaan atau unsur kebetulan, oleh karena itu mohon dimaafkan.
Kepentingan Publikasi,
Hak cipta dilindungi oleh Tuhan YME, siapa saja diperbolehkan untuk mengutip sebagian atau keseluruhan segala bentuk tulisan yang terdapat dalam blog selama mencantumkan tautan balik atau "link back" atau dengan terlebih dahulu izin kepada penulis.

Terimakasih.

Pengikut

Jumat, 12 Agustus 2011

Artikel

Bijaksana Dalam Menghadapi Televisi

Semula televisi merupakan salah satu media yang digunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi. Namun seiring bergantinya waktu semua itu berbanding terbalik. Televisi yang semula bermanfaat sekarang malah berdampak negatif bagi masyarakat, dan akibat yang sangat fatal terjadi pada anak dan remaja.
Banyak sekali program televisi yang diputar dalam komposisi yang melebihi batas wajar. Acara tersebut diputar saat dimana waktu yang diwajibkan bagi anak untuk belajar.
Program televisi sengaja dikemas secara apik dan menarik. Dari film kartun hingga sinetron anak. Sehingga membuat anak tidak mau beranjak dari acara tersebut, dan akhirnya mereka lupa akan kewajiban mereka yaitu belajar.
Namun lucunya banyak juga sinetron anak yang mengaku mendidik padahal apa yang mereka suguhkan adalah hal yang sejatinya masih tabu atau belum pantas bagi anak untuk mengetahuinya, sehingga banyak anak yang terpengaruh dan memiliki keinginan untuk meniru, akibatnya anak menjadi bandel atau nakal dan bahkan berkeinginan untuk berbuat jahat.
Selain dampak psikologis, televisi juga berdampak buruk bagi fisik anak. Banyak sebagian dari anak yang menggunakan alat bantu melihat(kacamata). Hal itu disebabkan karena jarak mata dari layar televisi terlalu dekat serta terlalu lamanya intensitas waktu yang mereka gunakan untuk melihat televisi. Selain menyerang mata, televisi juga mengganggu syaraf pada anak yang berakibat tubuh menjadi malas serta meningkatkan kebiasaan mengkhayal pada anak sehingga membuat anak sulit berkonsentrasi saat belajar.
Jika dibiarkan secara terus menerus, dampak tersebut akan terus berlanjut hingga remaja dan dewasa. Sehingga akan menjadi kebiasaan buruk bagi mereka.
Masa remaja adalah masa dimana remaja tersebut mencari jati diri mereka. Semestinya periode emas tersebut disi dengan sesuatu yang positif sehingga dapat menggali potensi pada remaja tersebut.
Padahal meskipun mereka telah memasuki usia remaja atau bahkan dewasa, bukan berarti mereka pantas disuguhi dengan sesuatu yang merusak moral. Dan bolehkah mereka melihat gambar atau adegan yang hanya halal dilakukan oleh suami istri, meskipun pihak yang memproduksi acara tersebut telah mengikutsertakan label ’remaja’ atau ’dewasa’ atau bahkan ’hanya untuk 17 tahun keatas’?
Namun ironisnya ada juga sebagian dari remaja sekarang mengaku memiliki hobby menonton film. Sadarkah mereka bahwa kebanyakan dari film yang mereka tonton hanyalah akan membawa dampak buruk bagi diri mereka sendiri.
Sungguh memprihatinkan. Banyak sekali remaja zaman sekarang yang telah rusak moralnya. Berperilaku kebarat-baratan, tidak bermanusiawi dan tidak lagi memiliki rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Dan yang paling mengerikan adalah banyak remaja wanita yang gemar sekali memamerkan auratnya.
Jika sudah begini siapakah yang harus dipersalahkan? Semua ini belum sepenuhnya kasalahan terletak pada anak atau pihak yang memproduksi acara tersebut atau bahkan pemerintah sekalipun. Semestinya kita sebagai orang tua harus mau bercermin. Sudahkah kita memberikan contoh yang baik pada anak?
Ada sebagian dari orang tua(para ibu) yang menyuruh anaknya untuk belajar, sedangkan ibu itu sendiri malah asyik menonton televisi misalnya sinetron. Hal ini akan menimbulkan kesan tidak adil bagi anak. Kisah tersebut mengingatkan kita dengan pepatah ”buah jatuh tak jauh dari pohonnya” untuk itu jika orangtua selalu memberi contoh serta gambaran yang baik bagi anak pastilah anak akan menyontoh yang baik pula dari orangtua.
Seorang ayah sebagai kepala keluarga berhak untuk membuat peraturan bagi setiap anggota keluarga, misalnya dengan melarang menonton televisi dari pukul 19:00 hingga pukul 21:00 atau dengan memperbolehkan anak melihat televisi namun dengan jatah waktu misalnya satu jam. Mungkin juga dengan mengawasi program apa saja yang ditonton oleh anak. Misalnya dengan selalu mendampingi anak saat menonton televisi dan memberikan penjelasan pada anak mana tontonan yang baik dan buruk. Saya yakin dengan berlakunya peraturan sejenis ini pasti meskipun sedikit akan memberikan manfaat. Karena sejatinya sesuatu yang buruk jika kita tidak mau terkena dampaknya hanya ada satu jalan keluar yaitu menjauhinya. Seperti falsafah jawa yang sering kita dengar ”ojo cedak kebo gupak.”
Namun bukan berarti karena dampak tersebut kita wajib membingkai diri serta keluarga kita dari pengaruh televisi. Karena jika kita mampu memilah-milah mana acara yang baik, sungguh akan banyak manfaat yang kita dapatkan dari televisi.
Melalui televisi kita dapat memperoleh banyak sekali informasi dari bidang bisnis maupun pendidikan. Seperti misalnya progam yang tersedia dalam televisi edukasi. Melalui progam-progam tersebut dapat membantu kita dalam belajar anak. Bukan hanya bagi anak, untuk ibu rumah tanggapun juga banyak manfaatnya misalnya acara pengajian atau acara memasak yang dapat menambah kumpulan resep kita.
Nah dengan memperlakukan televisi secara bijaksana, saya yakin pasti kita tak akan lagi dapat dirugikan oleh tegnologi. Karena sejatinya tegnologi diciptakan untuk memudahkan dan memberi manfaat bagi kita bukan malah sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar